Rumah Tanpa Jendela

Semalam saya menonton film Rumah Tanpa Jendela bersama si mas. Sebenarnya udah film tahun lalu sih, dan beli CD-nya juga udah beberapa bulan lalu tapi kita belum sempat tonton (hehehe). Nah karena semalem gak nemu acara TV yang seru jadinya kita nonton film ini.

Film ini merupakan film anak-anak, hasil karya Aditya Gumay, salah satu sutradara yang beberapa kali membuat film cukup “bernilai edukasi”. Film ini merupakan pengembangan dari Novel “Jendela Rara” karya Asma Nadia. Walaupun saya juga belum pernah membaca versi novelnya, sudah saya duga apabila karya Asma Nadia biasanya bagus, bertemakan anak-anak dan nilai luhur agama sehingga pastinya film ini juga akan cukup ber-edukasi. Tapi juga terpikir di benak saya, biasanya karya Asma Nadia ceritanya agak sedih-sedih gimana gitu (salah satu keanehan saya adalah gak sanggup nonton film sedih, hiks hiks hiks karena saya terlalu mudah terbawa perasaa). Salah satu kongkritnya adalah sewaktu SMP, (mungkin bagi yang pakai buku Diktat Bahasa Indonesia resmi keluaran Dinas Pendidikan pasti pernah mendapat suguhan sepotong-sepotong cerita “Si Jamin dan SI Johan”. Walaupun dari membaca sepotong-potong saja saya jadi tahu ceritanya bakalan berakhir sedih (sang kakak, si Jamin, berakhir pada kematian, hiks hiks…pokoknya melas). Sehingga saat teman-teman saya setelah membaca sepotong ceritanya langsung pada ke perpustakaan untuk mencari buku lengkapnya (yang juga keluara Balai Pustaka), saya keukeuh untuk gak mau membaca bukunya sedikitpun karena di otak saya udah membayangkan bagaimana pilunya kisah kakak beradik (kalau gak salah kakaknya loper koran ini).  Huwaaaaa…kenapa pengarangnya tega bikin cerita sedih ya, hiks hiks! (oh ya. BTW kalau gak salah novel ini bahkan dibuat versi sinetronnya di TV7 deh jaman dulu, itu juga saya ngotot gak mau nonton sedikitpun, hehehe…parah bener.

Oke, back to the film. Film Rumah Tanpa Jendela ini banyak dibintangi pemain bocah-bocah cilik dari Sanggar Ananda, sangat banyak tarian dan nyanyian (khas film anak-anak). Buat saya yang udah gede ini, kadang gak sabar nunggu selesai nyanyinya soalnya lebih penasaran kelanjutan ceritanya, hehe…tapi lagunya cukup bagus-bagus, ala anak-anak yang riang.

Latar belakangnya adalah kehidupan perkampungan pemulung, dimana anak-anak pemulung itu bersekolah di suatu yayasan sukarelawan (Sekolah Singgah) dan mengutarakan mimpi-mimpinya. Salah satu impian nyentrik adalah impian Rara untuk memiliki jendela di rumahnya supaya dapat melihat sinar mentari di pagi hari. Kemudian setting cerita beralih ke Aldo, anak bungsu (seumur Rara) yang memiliki keluarga kaya raya tetapi dia hanya dekat dengan Nenek dan kakak lelakinya, sedangkan keluarga yang lain kurang memperhatikannya. Ironisnya, dia mendapat perlakuan berbeda karena dia autis, sehingga tidak normal seperti anak lainnya.

Kedua anak dengan latar belakang kelebihan dan kekurangan masing-masing ini akhirnya menjadi teman dan saling berbagi. Berbagai persoalan timbul mengenai ibu dan kakak lelaki Aldo yang tidak suka teman-teman Aldo yang pemulung, pertemanan Aldo dab kawan-kawan Rara di kampung pemulung dan kemudian cerita sampai di klimaks saat terjadi peristiwa kebakaran  di rumah pemulung Rara, yang merenggut nyawa Ayah Rara dan membuat Nenek Rara koma di RS. Kejadian ini tepat pada saat dimana sebenarnya Ayah Rara sudah berhasil membelikan sebuah kusen jendela bekas untuk memenuhi permintaan Rara akan jendela (hiks hiks hiks…melas). Sayangnya yang terjadi adalah Rara harus menerima kenyataan bahwa ia tidak memiliki ayah lagi.

Sejak saat itu pertemanan Aldo dan Rara menjadi lebih erat karena Nenek Aldo membantu seluruh biaya pengobatan Nenek Rara. Saat sampai pula di klimaks kedua, ketika kakak kedua Aldo merasa marah kepada Aldo yang dianggap merusak acara ulang tahunnya dan menyebabkan Aldo sedih karena dia merasa tidak diterima lagi oleh keluarganya. Aldo yang melarikan diri dari rumah kemudian ditolong Rara, dan karena semalaman pergi tanpa uang akhirnya mereka harus mencoba mencari uang untuk makan dengan menjadi ojek payung.

Keduanya akhirnya ditemukan oleh keluarga Aldo di Sanggar Lukis tempat Aldo biasa belajar menggambar. Di pagi itu, ibu dan kakak Aldo kemudian meminta maaf setelah melihat tanpa sengaja Aldo lebih memilih menggambar dirinya bersama Rara, Nenek Aldo, beserta sopir dan pembantu Aldo karena Aldo menganggap hanya 4 orang itu saja yang tulus menyayangi dirinya. Akhirnya keluarga Aldo berjanji menyayangi Aldo selayaknya anak normal lainnya.

Kisah berakhir happy ending sebenarnya, kecuali memang di episode Ayah Rara meninggal tadi. Hehehe, entah saya merasa unik sekali karena yang menjadi Ayah Rara adalah Rafi Ahmad, secara sepertinya kemudaan gitu…

Jadi kesimpulannya, film ini cukup oke untuk ditonton anak-anak Indonesia. Semoga saja kepekaan masyarakat akan timbul pada kalangan yang berbeda dari kebanyakan, misalkan saja pada kehidupan pemulung, anak jalanan atau anak berkebutuhan khusus. (ayo Pemerintah dan Pejabat lainnya, silahkan ambil peran masing-masing yah…bantuan Anda amat berarti bagi mereka!)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s