Obsesi, pembunuh saya…

Obsessive..

this is something which fill my soul for several years in my life.

Kalau kamu mencarinya di kamus Inggris-Indonesianya John M.Echols dan Hassan Shadily, obssesion itu didefinisikan sebagai godaan, gangguan pikiran, atau kesurupan. Menurut Rahmi di Cintapuccino, hal itu ada benarnya juga. Karena saat kita terobsesi, kita melakukan hal-hal diluar akal sehat—persis seperti orang yang tergoda, atau lebih parah lagi seperti orang yang terkena gangguan pikiran atau kesurupan kemasukan setan.

Huff…

Awal-awalnya saya tak menyangka saya termasuk orang yang obsessif. Sepertinya saya mendapat soul “obsessif” ini di usia 15 tahunan. Tanpa saya sadari, setiap saya terbesit suatu keinginan, saya akan memaksa diri ini untuk dapat mewujudkannya dengan berbagai cara (yaa tapi belum sampai level melakukan kriminalitas sih memang).

Beberapa hari ini sih saya tersadar lagi akan sifat obsessif saya. (juga disebabkan beberapa buku yang saya baca akhir-akhir ini).

Dari buku Swandrella, yang menceritakan bagaimana seorang wanita yang terobsesi akan kecantikan dan kesempurnaan fisik yang dimiliki wanita lain. Dan karena dia merasa jati dirinya dan fisiknya buruk, sampai dia berusaha menjadi si wanita tadi dengan cara merubah rambutnya, pakaian bahkan memalsukan identitas agar memiliki nama sama dengan wanita tadi. Obsesi membuatnya tidak mencintai dirinya sendiri dan ingin menjadi orang lain, walaupun sebenarnya dia memiliki kecantikan sendiri yang tak disadarinya…

Dan yang saya masih terngiang ceritanya adalah Cintapuccino, dimana seorang perempuan menyimpan obsesi terhadap seorang pria selama 10 tahun. Sampai selama 10 tahun dia mengikuti semua jalan hidup (mulai dari sekolah,
ektrakulikuler, kuliah sampai urusan pekerjaan) hanya untuk bisa bersama sang pria.

Sungguh obsesi bisa menjadi kebutaan apabila kita menjadi budaknya.

Tapi di sisi lain kita memerlukannya, untuk memacu semangat hidup kita…
Saya memiliki banyak obsesi sejak usia yang saya sebutkan tadi.
Sebagai anak sekolah, saya sampai lebih mementingkan berapa level ke-populer-an saya daripada prestasi sekolah saya sendiri (yah, karena mungkin bagi saya populer lebih penting daripada jadi rangkin 1 di kelas) Biarpun memang bisa juga mendapat kepopuleran dari kepintaran, tapi saya tidak menginginkan jalan itu sebagai pilihan saya.

Saat saya terobsesi memiliki barang-barang mewah tertentu  (yang akhirnya memang benar-benar saya dapatkan).
Mulai dari punya motor di usia 16 tahun,
Hadiah laptop dan mobil di usia 20 tahun,
Hadiah plat mobil sesuai nama saya di usia 21 tahun,
Handphone B* di usia 22 tahun

(terima kasih Allah dan orangtua yang membantu saya mendapatkan ini semua)
Itu hanya sekedar contoh kecil saja..

 

Sebenarnya saya harus lebih banyak mensyukuri dan menerima apa yang sudah saya dapatkan. Tapi saat itu jugalah saya sering lupa dan terus mencari atau mengejar obsesi saya yang lain…
Dan tiba-tiba hati saya terasa sakit sekali mengingat ini semua.

Mungkin selama hidup saya ini, sudah banyak orang yang menjadi korban akibat obsesif saya untuk mendapatkan apa yang saya mau. Dan entahlah apa yang harus saya lakukan untuk menebus dosa kepada mereka semua…

Sampai hari ini saya merasakan ‘tamparan’ keras bagi diri saya sendiri.  Saat seseorang mengatakan bahwa saya terlalu sibuk mengejar obsesi saya dan melupakan bahwa semestinya saya harus memperhatikan orang yang saya cintai.

Dan saya makin merasakan perasaan bersalah itu.

Saat sebelumnya saya mendapat ‘tamparan’ pertama kali, kala seseorang mengatakan saya terlampau egois untuk selalu (dan selalu) mencari apa yang saya mau dan ‘membuang’ sesuatu yang tak saya perlukan itu…

Sungguh itu semua terjadi di luar kesadaran saya…
Saya tak bermaksud menyakiti, walau mungkin kalian bilang saya sudah pasti menyakiti..

Jarang sekali saya menuliskan kesedihan di blog ini (dengan alasan jaga-image agar tak terkesan lebay atau apalah itu), tapi entahlah kali ini rasa bersalah ini terlalu berat untuk saya ingat..

Maaf untukmu, walau mungkin saya tak pantas untuk dimaafkan…

Karena aku tak punya kata lain selain maaf.


..
.

One thought on “Obsesi, pembunuh saya…

  1. Obsesif yg ada d’diri kita sudah mendarah daging…

    Jadi,wajar kalau seseorang memiliki obsesif..

    Kita harus mensyukuri nikmat yang telah allah anugrahkan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s