tentang Pria

Kali ini saya membaca buku berjudul Cowok di Mata Cewek, yang dibuat oleh

First Reader Team GagasMedia. Suatu kumpulan ekspresi cinta dari pengalaman para pembaca mengenai pengalamannya dengan cinta, simple tapi mungkin akan turut membawa pembacanya teringat kisah-kisah konyol mereka sendiri.

“Boys…can’t live with them, can’t live without them..”

Setuju juga, walaupun sebagai cewek kita mungkin pernah mendapat masa lalu tentang cowok, tetap saja suatu saat kemudian kita jatuh cinta lagi.

Beberapa cerita menarik saya kisahkan sedikit di sini.

Yang pertama mengenai definisi Soulmate yang seringkali diributkan wanita (karya Nina Ardianti, dengan judul Soulmate: Is your soul lonely without a mate?).  Memang susah menjelaskan deskripsinya, tapi yang jelas, soulmate can describe as you have come to the time when you just ‘click’ with someone. By that time, you will now who’s your soulmate. Karena memang soulmate tak terdeteksi secara mudah. Terkadang karena sibuk sendiri dengan pencarian kita akan pria yang merupakan soulmate kita, kita malah tak menyadari adanya sahabat cewek (yap, rata-rata cewek memiliki sahabat terdekatnya) yang selalu hadir di saat kita susah atau senang. Soulmate doesn’t always come from opposite gender. Soulmate is someone -whoever he or she is- that you can live without, but your heart feels emptuness inside. Tapi bukan berarti kalau kita memiliki soulmate dari gender yang sama kita adalah tergolong jenis homo atau lesbian loh yaaa… hehe… Jadi berterimakasihlah para wanita yang memiliki sahabat setia, serta memiliki
pria yang menjadi cinta sejati kalian.

Yang kedua berjudul ‘Ivanology’, kisah dari Esty Kartika mengenai cintanya pada senior kampusnya (mirip Cintapuccino yah). Sayang cintanya tak terbalas. Namun ternyata cinta tak terbalas pun mampu berguna untuk kita,
apabila kita menggunakannya dengan benar. Kenapa bisa dibilang begitu? karena di dalam cerita ini, si cewek yang mengagumi tokoh Iva (cowok ini) mengikuti jejak sang Iva dengan rajin kuliah, menyukai organisasi dan belajar untuk berani bersosialisasi (karena pada awalnya si tokoh cewek amat pendiam dan pemalu). Mungkin hal ini mengingatkan kita, jatuh cinta bukan alasan untuk jadi malas dan melupakan kegiatan-kegiatan positif dalam kita, tapi justru menjadikannya pemicu semangat kita (biarpun pada akhirnya cintanya tak terbalas sih).

Cerita ‘Ivanology’ ini mirip dengan cerita lain di buku ini, yaitu Mata Kuliah Semester ini : Cinta. Intinya tentang perempuan yang merasa patah hati berat, namun tersadar bahwa semua memang sudah takdir.

*kutipan*
Terkadang takdir memang terasa tidak adil. Namun, bukankah justru naik-turunnya fase kehidupan membuat hidup ini lebih bermakna? agar manusia dapat memahami apa itu kesedihan, kekecewaan dan belajar untuk menerimanya.

Bayangkan betapa membosankannya hidup ini tanpa masalah, tanpa nestapa. Bayangkan juga betapa menyedihkan hidup ini apabila hanya terdapat kesengsaraan.

Tuhan Maha Adil ya? Dia mempunyai caranya sendiri untuk membuat seorang insan belajar dan menjadi dewasa. Dia memberikan pelajaran itu dalam sebuah rangkaian peristiwa dalam kehidupan manusia.

Ada lagi cerita dari Lulu Herdinawati, Shitty Love Story, menceritakan tentang seorang perempuan yang mengalami kesuksesan cinta…dalam hal menyakitkan hati. Saya cukup menyukai ceritanya yang detail, pengalaman tokoh utama perempuan ini dalam kisah cintanya, mulai SMP-SMA sampai kuliah. Cerita ini mengingatkan saya juga pada kisah cinta ‘monyet’ saat masih sekolah. Well, sepertinya sama dengan si tokoh cewek ini, saya juga tidak sukses-sukses amat dalam hal cowok. Seringkali membuat saya sebal saja, tapi sekarang malah lucu kalau diingat. Sama seperti pengalaman kita sendiri, terkadang kalau diingat, memang menggelikan. Bagaimana Tuhan mengatur takdir kita agar bertemu si A, si B, lalu dekat dan tiba-tiba menjadi jatuh cinta, walaupun akhirnya kita menjadi patah hati dan sedih karenanya. Seperti kata penulis, “bahwa sesungguhnya manusia hanya berencana dan Tuhan-lah yang menentukan“, maka semua hal itulah yang akhirnya terjadi dalam perjalanan hidup kita, entah itu pengalaman manis atau pengalaman pahit sekalipun.

Kisah menarik lainnya adalah Kenangan Terindah karya Natalina. Mengisahkan seorang perempuan yang masih mengingat cinta pertamanya saat kelas 4 SD yang begitu berkesan. Namun sang tokoh hanya mengandalkan takdir, tanpa berniat untuk mencarinya walaupun saat dewasa mereka kuliah di satu gedung yang sama. Bagi tokoh cewek, si kenangan masa kecilnya itu memang bukan untuknya, karena dia belum pernah bertemu secara ‘otomatis’ di saat mereka dewasa. Hmm, ada kalanya manusia melakukan gambling semacam ini. Tidak berniat untuk bertemu seseorang, tapi amat-sangat-berharap bisa bertemu seseorang itu, dengan berharap takdir berpihak pada kita, hehee…(saya juga pernah kok, dan yang jelas pernah berhasil. Rasanya senaaang sekali memang, lebih menyenangkan daripada pertemuan terencana)

Dari berbagai cerita di buku ini, yang paling saya suka adalah cerita berjudul “The Rivals” karya Hestia Amriyani. Mengupas tentang 10 musuh dan pesaing perhatian wanita dari pacarnya (karena cowok seringkali meletakkan kita di posisi yang kesekian untuk hal-hal tertentu). 10 rivals versi Hestia adalah sebagai berikut:

10. Play Station (dan permainan sejenis dengan nama lain)
Benda mati ini membuat cowok merasa lupa umur dan lupa segalanya, termasuk cewek (pacar) mereka sendiri. Inget kan, seringkali pacar kita tak mengangkat telepon atau membalas sms karena asyik bermain?

9. Olahraga
Proporsi cowok yang suka berolahraga memang lebih besar daripada cewek yang suka berolahraga. Karena, menurut cowok, olahraga itu memberikan kesenangan tersendiri bagi cowok.

8. Sahabat (dengan gender) cewek
Ini masalah untuk cowok yang memiliki sahabat dengan jangka waktu hubungan lebih panjang daripada durasi ‘jadian dengan pacar resmi’. Secara tidak sadar karena lebih dekat dengan sahabat ceweknya, para cowok mengutamakan
kepentingan sahabatnya. Belum lagi kalau memang si “sahabat cewek” ini iseng menggunakan ‘posisi’nya untuk membuat si cewek ini kesal atau cemburu (dan masalah lebih besar lagi kalau si “sahabat cewek” ini memiliki ‘perasaan’ pada sang cowok). Hal ini bisa menjadi masalah amat besar buat cewek. (saya sepertinya mengalami semua posisi ini, punya pacar yang diganggu sahabat ceweknya, jadi si “sahabat cewek” yang iseng menggoda pacar teman saya (terutama kalau saya tahu si pacar teman saya ini terlalu ganjen, sok cantik, sok manja..intinya menyebalkan di mata saya, hehe..rasanya tak ikhlas sahabat cowok saya dimiliki cewek seperti itu. Dan terakhir bahkan saya pernah suka sama sahabat cowok saya sendiri (ini nih yang repot memang…)

7. Sisters (entah itu kakak perempuan atau adik perempuan)
Terutama adik sih..biasanya kalau kita punya cowok yang punya adik perempuan, saat berada di satu ruangan sepertinya kita jadi harus berbagi perhatian pacar sendiri. Apalagi kalau si adik ini manja dan tak rela memiliki ‘calon kakak ipar’ seperti kita..

6. Otomotif (mobil)
Karena para cowok rata-rata amat menyayangi mobilnya seperti cewek yang amat menyayangi kecantikannya.

5. Hobi
Para pria akan sangat lupa waktu bahkan uang saat mereka sedang bergelut dengan hobinya. Cara para wanita agar pria tak melupakan pacar sendiri adalah…harus terlibat dalam hobinya juga. Hal inilah mengapa cewek yang cerdas, terbuka dan berwawasan luas memiliki nilai plus tersendiri di mata cowok.

4. Nyokap
Ini rival tapi rival yang harus kita ambil hatinya juga…Seperti yang kita tahu, kedekatan emosional anak lelaki akan lebih tinggi kepada ibunya. Tapi biasanya juga, lelaki yang menyayangi figur ibu adalah lelaku yang dapat menyayangi wanita dengan baik (asal gak kebangetan jadi anak mami yah).

3. Band
sama seperti hobi, bagi pria pemusik, band adalah ‘panggilan hidup’ nomor satu bagi pria

2. Teman-teman
Persahabatan adalah di atas segala-galanya bagi pria, apalagi pria yang tergolong supel dan pandai bersosialisasi. Berkumpul dengan teman-teman seringkali menjadi agenda yang diutamakan.

1. Sepakbola
Dan ini dia rival nomor 1 bagi wanita, sepak bola. Lihat saja apa yang terjadi dengan pria yang sedang menonton sepakbola di tivi. Mungkin rasanya kita tampak invisible baginya, hehee…

Penulis (Hestia) membuat saya tertawa saat membaca The Rivals ini. Bagaimana penulis memilihkan scene lokasi dan setting kejadian yang berkaitan dengan musuh cewek ini sehingga kita jadi sadar, begitu banyak pesaing yang harus ditaklukkan demi merebut perhatian pacar.

Overall, buku ini memberikan sentuhan sendiri bagi saya. Mengingatkan bahwa dalam perjalanan hidup ini, sebagai wanita kita tidak bisa hidup tanpa pria. Selalu ada pria di hidup kita. Belum tentu mereka menjadi pacar kita memang. Adakalanya hanya sekadar ketemu sekali saja, sekadar kenal, sekadar berteman, bermusuhan atau bersahabat…namun mereka hadir mengisi hidup kita. Entah dengan canda tawa, perhatian atau keperihan. Tapi itulah yang terjadi, selalu ada pengalaman berharga yang bisa dipetik dari semua ini. Tergantung dari mana sudut pandang kita melihatnya. Karena apabila hanya diratapi saja, tak akan ada pendewasaan yang kita alami.

Saya juga teringat sesuatu… para sahabat cowok saya, pria yang pernah mampir di hidup saya, dan pria yang mengisi hari-hari saya..

Terima kasih pada kalian semua, yang sudah mengajarkan dan menunjukkan saya berbagai pelajaran kehidupan.

Maafkan saya juga, apabila saya melukai kalian atau mungkin membuat hidup kalian buruk karena sudah mengenal saya.

Karena saya pun tak mampu mengontrol takdir saya (dan takdir kalian juga yang bersentuhan dengan takdir saya)….

Terima kasih atas kenangannya.

dan terima kasih untuk dia, pengukir takdir saya kali ini.

One thought on “tentang Pria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s