Ergonomi : Work Measurement

 

Work Measurement adalah yaitu prinsip-prinsip ekonomi gerakan, gerakan-gerakan fundamental, pengukuran kerja, performance rating, pengukuran waktu dan output standar, metode keseimbangan lintasan, serta analisa produktivitas.

Prinsip-prinsip Ekonomi Gerakan

Untuk menganalisis dan mengevaluasi metode kerja, prinsip-prinsip ekonomi gerakan merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Prinsip ekonomi gerakan dapat digunakan untuk menganalisis gerakan-gerakan kerja setempat yang terjadi dalam sebuah stasiun kerja dan dapat juga untuk kegiatan-kegiatan kerja yang berlangsung secara menyeluruh dari satu stasiun kerja ke stasiun kerja yang lain.

Prinsip ekonomi gerakan dihubungkan dengan penggunaan badan/anggota tubuh manusia:

  • Manusia memiliki kondisi fisik dan struktur tubuh yang memberi keterbatasan dalam melaksanakan gerakan kerja.
  • Bila mungkin kedua tangan (yang sama-sama dibutuhkan untuk melakukan seperti halnya dalam proses perakitan) harus memulai dan menyelesaikan gerakannya dalam waktu yang bersamaan.
  • Kedua tangan jangan menganggur pada waktu yang bersamaan kecuali sewaktu istirahat.
  • Gerakan tangan harus simetris dan berlawanan arah.
  • Untuk menyelesaikan pekerjaan, maka hanya bagian-bagian tubuh yang memang diperlukan sajalah yang bekerja agar tidak terjadi penghamburan tenaga dan kelelahan yang tidak perlu.
  • Hindari gerakan patah-patah karena akan cepat menimbulkan kelelahan.
  • Pekerjaan harus diatur sedemikian rupa sehingga gerak mata terbatas pada bidang yang menyenangkan tanpa perlu sering mengubah fokus.

Prinsip ekonomi gerakan dihubungkan dengan tempat kerja berlangsung:

  • Tempat-tempat tertentu yang tak sering dipindah-pindah harus disediakan untuk semua alat dan bahan sehingga dapat menimbulkan kebiasaan tetap (gerak rutin).
  • Letakkan bahan dan peralatan pada jarak yang dapat dengan mudah dan nyaman dicapai pekerja sehingga mengurangi usaha mencari-cari.
  • Tata letak bahan dan peralatan kerja diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan urut-urutan gerakan yang terbaik.
  • Tinggi tempat kerja (mesin, meja kerja, dan lain-lain) harus sesuai dengan ukuran tubuh manusia sehingga pekerja dapat melaksanakan kegiatannya dengan mudah dan nyaman. Dalam hal ini, prinsip-prinsip anthropometri mutlak harus diterapkan pada saat merancang fasilitas kerja tersebut.
  • Kondisi ruangan pekerja, seperti penerangan, temperatur, kebersihan, ventilasi udara, dan lain-lain yang berkaitan dengan persyaratan ergonomis, harus diperhatikan juga sehingga dapat diperoleh area kerja yang lebih baik.

Prinsip ekonomi gerakan dihubungkan dengan desain peralatan kerja yang dipergunakan:

  • Kurangi sebanyak mungkin pekerjaan tubuh (manual) apabila hal tersebut dapat dilaksanakan dengan peralatan kerja.
  • Usahakan menggunakan peralatan kerja yang dapat melaksanakan berbagai macam pekerjaan sekaligus, baik yang sejenis maupun yang berlainan.
  • Siapkan dan letakkan semua peralatan kerja pada posisi tepat dan cepat untuk memudahkan pemakaian atau pengambilan pada saat diperlukan tanpa harus bersusah payah mencari-cari. Desain peralatan juga dibuat sedemikian rupa agar memberi kenyamanan genggaman tangan saat digunakan.
  • Jika tiap jari melakukan gerakan tertentu – seperti pekerjaan mengetik misalnya – maka beban untuk masing-masing jari tersebut harus dibagi seimbang sesuai energi dan kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing jari.

 

Gerakan-gerakan Fundamental (THERBLIG)

Bila kita megamati suatu pekerjaan yang sedang berlangsung, hal yang pasti terlihat adalah gerakan-gerakan yang membentuk kerja tersebut, Untuk mempermudah pengamatan dan penganalisisan, perlu dikenal terlebih dahulu gerakan-gerakan dasar yang membentuk kerja tersebut. Atas dasar itulah Frank dan Lillian Gilberth menciptakan kode THERBLIG (dieja dari nama Gilberth secara terbalik) ini. Yang dimaksud dengan gerakan- gerakan fundamental atau THERBLIG adalah gambar berupa simbol-simbol yang menunjukkan keadaan operator saat melakukan pekerjaannya. Sebagian besar dari elemen-elemen dasar Therbligs merupakan gerakan tangan yang biasa terjadi apabila suatu pekerjaan terjadi, terlebih-lebih bila bersifat manual. Macam-macam gerakan Therbligh adalah sebagai berikut :

1.     Mencari (Search)

2.     Memilih (Select)

3.     Memegang (Grasp)

4.     Membawa tanpa beban (Transport Empty)

5.     Membawa dengan beban (Transport Loaded)

6.     Memegang (Hold)

7.     Melepas (Release)

8.     Mengarahkan (Position)

9.     Mengarahkan awal (Pre Position)

10.  Memeriksa (Inspection)

11.  Merakit (Assemble)

12.  Mengurai rakit (Disassemble)

13.  Memakai (Use)

14.  Keterlambatan yang tidak terhindarkan (Unavoidable Delays)

15.  Keterlambatan yang bisa dihindarkan (Avoidable Delay)

16.  Merencana (Plan)

17.  Istirahat untuk melepas lelah (Rest to overcome fatigue)

 

Pengukuran Kerja Tidak Langsung

Beberapa aktivitas pengukuran kerja seringkali dilaksanakan hanya untuk satu jenis pekerjaan saja dan sama sekali tidak ada pemikiran bahwa data yang diperoleh bisa dimanfaatkan untuk operasi kerja yang lain. Oleh karena itu, dikembangkan data waktu baku untuk elemen-elemen kerja dari suatu pekerjaan yang sekiranya mungkin akan terdapat pula pada pekerjaan yang lainnya. Pengukuran kerja tidak langsung ini adalah pengukuran kerja dimana waktu operasi didapat dengan memanfaatkan waktu operasi yang sudah ada pada suatu gerakan yang sudah didapatkan dalam penelitian terdahulu.

 

a. Metode Standar Data

Seperti yang telah disinggung di awal tadi, beberapa aktivitas pengukuran kerja seringkali dilaksanakan hanya untuk satu jenis operasi tertentu saja dan sama sekali tidak ada pemikiran bahwa data yang diperoleh akan bisa beranfaat untuk operasi kerja lainya. Hal itu tentunya dipertimbangkan sebagai langkah yang tidak efisien karena bagaimanapun juga,  berbagai macam pekerjaan/operasi akan memiliki elemen kerja yang sama. Sebagai contoh ketika kita menetapkan waktu baku untuk pembuatan lubang dengan proses drilling dimana dalam hal ini data yang berkaitan dengan setting-up maupun handling time sudah dibakukan. Data yang ada ini tidak memberikan waktu operasi yang diperlukan untuk pembuatan lubang pada benda kerja, konsekuensinya perlu dilakukan aktivitas time study khusus untuk itu atau bisa dihitung melalui rumus-rumus yang relevan. Maka penetapan waktu baku dengan metoda standar data sangat sederhana sekali dan tentu juga lebih mudah atau cepat dilaksanakan. Problem yang dirasa cukup kompleks dalam hal ini hanya pada saat pengumpulan data waktu baku untuk berbagai jenis pekerjaan melalui aktivitas stopwatch time study. Meskipun demikian kegiatan pengumpulan data waktu baku tersebut cukup sekali saja dilaksanakan dan selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam kegiatan selanjutnya. Maka dapat dikatakan metode standar data adalah suatu metode perhitungan waktu baku dengan menggunakan data yang telah distandarkan.

 

b. Metode Predetermined Motion Time Study

Metode Predetermined Motion Time System terdiri dari suatu kumpulan data waktu dan prosedur sistematik dengan menganalisa dan membagi-bagi setiap operasi kerja (manual) yang dilaksanakan oleh operator ke dalam gerakan-gerakan kerja, gerakan-gerakan anggota tubuh ataupun elemen-elemen gerak manual lainnya dan kemudian menetapkan nilai waktu masing-masing berdasarkan waktu yang ada.

1) MTM (Method Time Measurement)

MTM (Method Time Measurement) adalah sistem penetapan awal waktu baku (predetermined time standard), berdasarkan studi gambar gerakan kerja dari operasi kerja industri, yang direkam dalam film. Sistem ini merupakan prosedur analisa tiap operasi atau metode kerja (manual operation) dalam gerakan dasarnya, lalu menetapkan standar masing-masing gerakan berdasar macam dan kondisi kerjanya.

MTM membagi gerakan-gerakan kerja ke dalam elemen-elemen gerakan dan waktu untuk setiap elemen gerakan ini ditentukan menurut beberapa kondisi yang disebut “kelas”, sebagai berikut:

–   Menjangkau (reach)

merupakan elemen gerakan dasar yang digunakan apabila maksud utama gerakan adalah untuk memindahkan tangan atau jari ke suatu tempat tujuan tertentu  dan panjang gerakannya merupakan lintasan yang sebenarnya yang tidak hanya sekedar berupa garis lurus yang menunjukkan jarak antara dua titik lokasi, dibagi menjadi lima kelas sebagai berikut :

1. Ke arah suatu tempat yang pasti atau ke suatu obyek di tangan lain (Kelas A).

2. Ke arah suatu sasaran yang tempatnya berada pada jarak kira-kira tetapi tertentu dan diketahui lokasinya (Kelas B).

3. Ke arah suatu obyek yang bercampur-aduk dengan obyek lainnya (Kelas C).

4. Ke arah suatu obyek yang kecil sehingga diperlukan suatu alat pemegang khusus (Kelas D).

5. Ke arah suatu sasaran yang tempatnya tidak pasti (Kelas E).

–   Mengangkut (move)

maksud utamanya adalah membawa suatu obyek dari satu lokasi ke lokasi tujuan tertentu dan waktu yang diperlukan dipengaruhi oleh variabel-variabel seperti kondisi sasaran yang dituju, jarak yang harus ditempuh, jenis atau tipe pengangkutan, faktor-faktor berat, dinamika atau statistika obyek dan panjangnya gerakan. Klasifikasinya adalah sebagai berikut :

1. Perpindahan obyek dari satu tangan ke tangan yang lain atau berhenti karena suatu sebab (Kelas A).

2. Perpindahan obyek ke suatu sasaran yang letaknya tidak pasti atau mendekati (Kelas B).

3. Perpindahan obyek ke suatu sasaran yang letaknya sudah tertentu/ tetap (Kelas C).

–   Memutar (turn)

adalah gerakan yang dilakukan untuk memutar tangan baik dalam keadaan kosong maupun membawa beban dimana gerakan ini berputar pada tangan, pergelangan tangan dan lengan sepanjang sumbu lengan yang ada. Waktu yang dibutuhkan tergantung pada dua variabel saja, yaitu derajat putaran dan faktor berat yang harus dipikul.

–   Memegang (grasp)

tujuan utamanya adalah untuk menguasai atau mengontrol sebuah atau beberapa obyek baik dengan jari-jari maupun tangan agar dapat melakukan gerakan dasar berikutnya. Waktu pergerakan dipengaruhi oleh tingkat kesulitan memegang obyek, bercampur tidaknya obyek dengan obyek lain, bentuk obyek, dll.

–   Mengarahkan (position)

dilaksanakan untuk menggabungkan, mengarahkan atau memasangkan satu obyek dengan obyek lainnya. Gerakan ini tidak diklasifikasikan karena cukup sederhana dan waktu gerakan dipengaruhi oleh derajat kesesuaian, bentuk simetris dan kemudahan untuk ditangani (handling).

–   Menekan (apply pressure)

disini memberikan siklus waktu penuh dari komponen-komponen yang berkaiyan dengan gerakan-gerakan yang lain.

–   Melepas rakit (diassemble / disengage)

yaitu memisahkan kontak antara satu obyek dengan obyek lainnya, termasuk gerakan memaksa yang dipengaruhi oleh kemudahan pada saat gerak lepas-rakit dilaksanakan atau kemudahan dalam memegang obyek. Waktu gerakan dipengaruhi oleh tiga variabel, yaitu : tingkat hubungan / sambungan dari obyek-obyek yang akan dipisahkan, proses handling dan faktor kehati-hatian yang perlu dipertimbangkan.

–   Melepas (release)

merupakan pembebasan kontrol atas suatu obyek oleh jari atau tangan. Ada dua klasifikasi, antara lain :

1. Normal release (gerakan melepas normal), yaitu secara sederhana jari-jari tangan bergerak membuka.

2. Contact release (gerakan melepas sentuhan), yaitu dimulai dan diselesaikan penuh sesaat elemen gerakan menjangkau (reach) dimulai tanpa waktu idle sesaat pun.

–   Gerakan mata (eye movement)

Gerakan mata pada umumnya bukanlah faktor penghambat sehingga tidak mempengaruhi waktu operasi, kecuali :

1. Eye focus time (gerakan mata untuk fokus) akan memerlukan waktu untuk melakukan gerakan fokus pada suatu obyek dan melihatnya untuk waktu yang cukup lama guna menentukan karakteristik-karakteristik obyek.

2. Eye travel time (gerak perpindahan mata) dipengaruhi oleh jarak antara obyek yang harus dilihat dengan jalan menggerakkan mata.

 

2) MOST

MOST merupakan sebuah sistem untuk mengukur kerja dimana kerja sendiri adalah pergerakan obyek-obyek, merupakan sistem data MTM level tinggi yang menyelidiki keseluruhan  konsep kerja untuk menemukan cara yang lebih baik bagi analis dalam mencapai tujuannya. Kerja berarti mengeluarkan energi untuk melakukan aktivitas yang berguna, perpindahan massa atau sebuah obyek. Jadi MOST memusatkan pada pergerakan obyek yang mengikuti pola-pola tertentu secara berulang seperti search, move, position. Pola-pola ini diidentifikasikan berurutan yang merupakan sub aktivitas dalam menggerakkan obyek sebagai dasar MOST Sequence Models.

Seperti dalam MTM, dasar penentuan waktu adalah jam yang biasa disebut TMU (Time Measurement Unit). Nilai waktu dalam TMU untuk setiap model rangkaian dihitung dengan menjumlahkan bilangan indeks, hasilnya dikalikan sepuluh. Semua nilai waktu MOST menunjukkan kecepatan rata-rata atau langkah normal.

Parameter indexing adalah suatu proses untuk menyeleksi varian parameter yang sesuai dari kartu atau tabel data dan menggunakan bilangan indeks yang sesuai. Model urutan-urutan parameter yakni General Move Sequence (berhubungan dengan perpindahan obyek yang mengikuti obyek yang tak terbatas di udara, dimana obyek tidak berkontak dengan obyek yang lain ), Control Move Sequence ( berhubungan dengan perpindahan manual obyek dengan melalui jalan yang terkendali, dibatasi dalam sekurang-kurangnya satu arah obyek lain) dan tool use (penggunaan alat mengikuti rangkaian pasti dari sub aktivitas yang terjadi pada aktivitas utama).

 

Pengukuran Kerja Langsung

Berbeda dengan pengukuran kerja tidak langsung, pengukuran kerja langsung merupakan pengukuran kerja yang dilaksanakan secara langsung di tempat pekerjaan yang akan diukur dijalankan.

a) Stopwatch

Stop-watch time study ini merupakan salah satu cara pengukuran kerja langsung. Stop-watch time study diperkenalkan pertama kali oleh Frederick W. Taylor. Metode ini baik diaplikasikan untuk pekerjaan-pekerjaan yang berlangsung singkat dan berulang-ulang (repetitive). Dari hasil pengukuran maka akan diperoleh waktu baku untuk menyelesaikan suatu siklus pekerjaan, yang mana waktu ini akan dipergunakan sebagai standar penyelesaian pekerja bagi semua pekerja yang akan melaksanaan pekerjaan yang sama seperti itu.

Dalam pengukuran kerja, hal-hal penting yang harus diketahui dan ditetapkan adalah untuk apa hasil pengukuran (dalam hal ini tentu saja waktu baku) tersebut digunakan dalam kaitannya dengan proses produksi. Biasanya, penetapan waktu baku akan dikaitkan dengan maksud-maksud pemberian insentif/bonus pekerja langsung (direct labour). Apabila memang dikaitkan dengan maksud ini, maka ketelitian dan tingkat keyakinan tentang hasil pengukuran ini harus tinggi karena menyangkut pendapatan serta prestasi seseorang. Di lain pihak, apabila waktu baku akan dikaitkan dengan upah perangsang, maka segala pihak yang akan terlibat dalam masalah ini, seperti operator, supervisor, dan lain-lainnya haruslah ikut bertanggung jawab untuk menyukseskan pelaksanaan pengukuran kerja tersebut. Supervisor harus benar-benar bertanggung jawab dan bertugas memberitahukan agar operator mengerti maksud dan tujuan dari pengukuran kerja yang dilaksanakan. Operator sendiri juga harus bersikap wajar )normal) pada saat diteliti dan mengikui segala prosedur dan metode kerja yang telah distandarkan sebelumnya.

Ada tiga metode yang umum digunakan untuk mengukur elemen-elemen kerja dengan menggunakan jam-henti (stop watch) yaitu pengukuran waktu secara terus menerus (continous timing), pengukuran waktu secara berulang-ulang (repetitive timing) dan pengukuran waktu secara penjumlahan (accumulative timing). Pada continous timing, pengamat kerja akan menekan tombol stop watch pada saat elemen kerja pertama dimulai dan membiarkan jarum petunjuk stop watch berjalan secara terus menerus sampai periode atau siklus kerja selesai berlangsung. Untuk metode repetitive timing (sering disebut sebagai  snap-back method), jarum penunjuk stop watch akan selalu dikembalikan (snap-back) lagi ke posisi nol pada setiap akhir dari elemen kerja yang diukur. Setelah dilihat dan dicatat waktu kerjanya kemudian tombol ditekan kembali dan segera jarum penunjuk bergerak untuk  mengikuti dan segera jarum penunjuk bergerak  untuk mengukur elemen kerja berikutnya. Keuntungan metode ini adalah pengamat akan dapat mengetahui variasi data waktu selama proses kerja berlangsung untuk setiap elemen kerja. Sedangkan untuk metode pengukuran waktu secara akumulatif memungkinkan pembaca data waktu secara langsung untuk masing-masing eleman kerja yang ada. Metode ini memberikan keuntungan pembacaan yang lebih mudah dan lebih teliti.

Secara garis besar langkah-langkah untuk pelaksanaan pengukuran waktu kerja dengan jam henti ini dapat diuraikan sebagai berikut:

§  Definisi pekerjaan yang akan diteliti untuk diukur waktunya dan beritahukan maksud dan tujuan pengukuran ini kepada pekerja yang dipilih untuk diamati dan supervisor yang ada.

§  Catat semua informasi yang berkaitan erat dengan penyelesaian pekerjaan seperti lay out, karakteristik/spesifikasi mesin atau peralatan kerja lain yang digunakan dan lain-lain.

§  Bagi operasi kerja dalam elem-elemen kerja sedetail-detailnya tapi masih dalam batas-batas kemudahan untuk pengukuran waktunya.

§  Amati, ukur, dan catat waktu yang dibutuhkan oleh operator untuk menyelesaikan elemen-elemen kerja tersebut.

§  Tetapkan jumlah siklus kerja yang harus diukur dan dicatat. Teliti apakah jumlah siklus kerja yang dilaksanakan ini sudah memenuhi syarat atau tidak? Tes pula keseragaman data yang diperoleh.

§  Tetapkan rate of performance dari operator saat melaksanakan aktivitas kerja yang diukur dan dicatat waktunya tersebut. Rate of Performance ini ditetapkan untuk setiap elemen kerja yang ada dan hanya ditujukan untuk performance operator. Untuk elemen kerja yang secara penuh dilakukan oleh mesin maka performance dianggap normal (100%).

§  Sesuaikan waktu pengamatan berdasarkan peformanca yang ditunjukkan oleh operator tersebut sehinggga akhirnya akan diperoleh waktu kerja normal.

§  Tetapkan waktu longgar (allowance time) guna memberikan fleksibilitas. Waktu longgar yang akan diberikan ini guna menghadapi kondisi-kondisi sepeti kebutuhan personil yang bersifat pribadi, faktor kelelahan, keterlambatan material, dan lain-lainnya.

§  Tetapkan waktu kerja baku (standard time) yaitu jumlah total antar waktu normal dan waktu longgar.

Keuntungan dan Kerugian

Seperti juga metode-metode lain, Stop-watch time study juga memiliki keuntungan serta kerugian. Keuntungan metode ini adalah pengamat akan dapat mengetahui variasi data waktu selama proses kerja berlangsung untuk setiap elemen kerja. Waktu yang dihasilkan pada stopwatch time study akan lebih akurat dan spesifik karena waktu diukur pada setiap elemen kerja terkecil. Sedangkan untuk metode pengukuran waktu secara akumulatif memungkinkan pembaca data waktu secara langsung untuk masing-masing eleman kerja yang ada, sehingga memberikan keuntungan pembacaan yang lebih mudah dan lebih teliti. Kerugiannya membutuhkan waktu dan biaya yang mahal, pekerjaan yang melelahkan karena melakukan pengamatan secara keseluruhan, memerlukan alat ukur khusus seperti stopwatch, dan memerlukan ketelitian lebih saat pengamatan dilakukan.

b) Work sampling

Work Sampling ini merupakan salah satu teknik pengukuran waktu kerja secara langsung sama halnya dengan Stopwacth Time Study. Pengukuran kerja langsung ini dilakukan dengan cara langsung mengamati objek kerja. Work sampling merupakan kegiatan sampling pada seorang operator atau suatu bagian mesin untuk menentukan besarnya persentase waktu yang dihabiskan pada setiap aktivitas atau bagian yang mungkin.Teknik Work sampling pertama kali digunakan oleh L.H.C. Tippett, seorang berkebangsaan Inggris, untuk meneliti industri tekstil. Work sampling ini digunakan dalam melakukan pengukuran kerja dimana pekerjaan bukan merupakan suatu pekerjaan repetitif dan memiliki siklus panjang sehingga dalam pengambilan data tidak dilakukan dari pertama hingga akhir pekerjaan namun dengan pengambilan sample dengan waktu yang ditentukan secara rando melalui tabel acak maupun Software Excel. Metode Work Sampling ini dikembangkan berdasarkan hukum probabilitas (the Law of Probability).

Pengukuran kerja secara langsung dengan metode work sampling ini bertujuan untuk :

1. Ratio Delay Studies

Ratio delay studies dilakukan dengan mengukur ratio delay dari sejumlah mesin, karyawan/operator, atau fasilitas kerja lainnya. Contoh aplikasi dari pengukuran ratio delay ialah perhitungan persentase dari waktu produktif dari mesin atau orang yang kegiatannya terlibat dalam aktifitas kerja, dan persentase dari waktu tidak produktif di mana sama sekali tidak terlibat aktifitas kerja (menganggur atau idle).

2. Performance Measurement

Pengukuran performa ini dilakukan pada seseorang selama waktu kerjanya berdasarkan waktu-waktu dimana orang ini bekerja atau tidak bekerja terutama sekali untuk pekerjaan-pekerjaan manual.

3. Time Standars

Menentukan waktu baku untuk suatu operasi kerja seperti halnya yang bisa dilaksanakan oleh pengukuran kerja lainnya.

Adapun keuntungan dari metode Work Sampling antara lain :

  • Waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk melakukan pengukuran kerja lebih sedikit bila dibandingkan dengan stop watch time study.
  • Pengamatan yang dilakukan terhadap obyek lebih efisien karena tidak perlu mengamati seluruh aktivitas, cukup dengan pengambilan sampel secara acak dengan waku random.
  • Pengamatan dapat dilakukan dalam satu periode tertentu sehingga dapat mengurangi kemungkinan variasi data yang dapat mempengaruhi hasil.
  • Ratio delay dari obyek studi dapat diketahui sehingga utilitas dari obyek tersebut juga dapat diketahui
  • Prosedur pelaksanaannya sederhana dan mudah dilakukan.

Adapun kerugian dari metode Work Sampling antara lain :

  • Hasil yang diperoleh kurang akurat karena tidak adanya hukum probabilitas.
  • Work sampling tidak ekonomis untuk pengamatan yang dilakukan untuk satu operator atau operator yang berada dalam area yang luas.
  • Tidak dapat memberikan informasi yang detail.
  • Perhitungan statistiknya lebih sulit dipahami.

 

Performance Rating

Performance rating merupakan suatu aktifitas untuk melakukan evaluasi untuk menilai kecepatan kerja operator disebut dengan rating performance.

Tujuan dari performance rating adalah untuk menormalkan kembali waktu kerja yang diukur. Waktu kerja yang tidak normal terjadi karena operator bekerja kurang wajar yaitu bekerja dengan kecepatan yang tidak semestinya. Ketidaknormalan ini bisa berupa lebih lambat atau lebih cepat. Seorang study analyst harus bisa menghilangkan faktor subyektivitas saat menilai performance rating operator.

Cara menormalkan waktu kerja yang diperoleh adalah mengalikan waktu pengamatan rata-rata dengan waktu penyesuaian rating. Ada tiga cara yang dapat digunakan untuk menormalakn waktu kerja yaitu:

  1. Apabila operator dinyatakan terlalu cepat (di atas batas kewajaran), maka rating faktor ini akan lebih besar dari satu (p>1 atau p >100%).
  2. Apabila operator bekerja terlalu lambat (di bawah batas kewajaran), maka rating faktor ini akan kurang dari satu (p<1 atau p< 100%).
  3. Apabila operator bekerja secara normal atau wajar, maka rating faktor ini akan sama dengan satu (p=1 atau p=100%)

Adapun beberapa jenis dari cara pengukuran Performance rating yaitu dengan yaitu dengan sistem skill and effort rating, westing house system rating, synthetic rating dan speed rating.

1.     Skill and Effort Rating

Skill and Effort Rating ini merupakan metode pengukuran performance rating yang diperkenalkan pada tahun 1916 oleh Charles E. Bedaux.

2.     Westinghouse System Rating

Sistem ini diperkenalkan oleh Westinghouse Company pada tahun 1927. Sistem ini dianggap lebih lengkap karena sistem ini tidak hanya mempertimbangkan skill dan usaha (effort), tetapi westinghouse juga menambahkan faktor kondisi kerja (working condition) dan keajegan (consistency) dari operator dalam melakukan aktivitas kerja.

3. Synthetic Rating dan Speed Rating.

Synthetic rating adalah metode untuk mengevaluasi tempo kerja operator berdasarkan pada nilai waktu yang telah ditetapkan terlebih dahulu (predetermined time value). Prosedur yang dilakukan adalah dengan melaksanakan pengukuran kerja seperti biasanya kemudian membandingkan waktu pengukuran dengan waktu penyelesaian elemen kerja yang sebelumnya sudah diketahui data waktunya. Perbandingan ini merupakan index perfomance atau rating factor dari operator untuk melaksanakan elemen kerja tersebut.

 

Perhitungan Waktu Standart dan Output Standart

1.   Personal Allowances

Personal allowances adalah kelonggaran yang diberikan pada operator untuk melakukan kegiatan-kegiatan pribadi sepeti ibadah, ke kamar kecil,berpindah untuk keperluan tertentu dan lainnya. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang relatif ringan,operator bekerja 8 jam tanpa jam istirahat yang resmi, kelonggaran yang diberikan biasanya sebesar 2 sampai 5% dari total waktu kerjanya. Sementara itu untuk pekerjaan yang lebih berat maka kelonggaran yang diberikan > 5%.

2.   Fatigue Allowances

Fatigue allowances diberikan untuk mengantisipasi kelelahan fisik manusia yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah kerja yang membutuhkan pikiran dan kerja fisik. Waktu yang diperlukan untuk istirahat tergantung pada individu yang bersangkutan, interval waktu dari silus kerja, kondiis lingkungan fisik, dan faktor-fakotr lainnya.

3.   Delay Allowances

Delay allowances adalah kelonggaran yang diberikan untuk mengantisipasi terjadinya delay atau keterlambatan yang disebabkan faktor-faktor yang sulit dihindari (unavoidable delay), tetapi bisa juga disebabkan oleh faktor-faktor yang masih bisa dihindari (avoidable delay). Untuk unvoidable delay, terjadi pada umumnya disebabkan karena mesin, operator, atau hal-hal lain di luar kontrol.

 

Metode Keseimbangan Lintasan (Line Balancing)

Keseimbangan lintasan berhubungan erat dengan produksi massal dimana sejumlah operasi kerja dikelompokkan ke dalam beberapa pusat-pusat kerja, yang selanjutnya kita sebut sebagai stasiun kerja. Pengelompokan tugas-tugas yang akan menghasilkan lintasan produksi memberikan informasi tentang kinerja waktu dari tugas–tugas tersebut, kebutuhan-kebutuhan pendahuluan yang mengurutkan urut-urutan yang fleksibel, dan tingkatan output yang diinginkan atau siklus waktu per unit. Proses ini sebenarnya merupakan suatu proses yang tidak pernah mencapai kesempurnaan. Ada  beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan Line balancing, yaitu

a.     Cycle time

b.    Balance Delay

c.     Presedence Diagram

 

Beberapa metode yang digunakan dalam melakukan penyeimbangan lintasan (line balancing), netode tersebut di antaranya adalah :

a.     Largest Candidate Rule (LCR)

Merupakan metode penyeimbangan lintasan dengan pengurutan antara proses operasi mulai dari yang terbesar sampai terkecil. Prosedur Penyusunan LCR :

1.     Mengurutkan semua operasi dari yang waktu prosesnya terbesar sampai terkecil

2.     Bergerak dari atas, mencari operasi kerja yang waktunya terbesar dan tanpa predesesor untuk dimasukkan dalam stasiun kerja yang pertama

3.     Mengulang kembali langkah kedua dengan batasan waktu total tiap departemen < waktu siklus.  Dalam hal ini operasi kerja boleh dimasukkan dalam suatu stasiun jika operasi pendahulunya telah masuk dalam stasiun kerja.

b. Kilbridge and Western Method

Prinsip dasar metode ini adalah membebankan terlebih dahulu pada operasi yang memiliki tanggung jawab keterdahuluan yang besar. Langkah-langkah penyelesaian yang diberikan metode ini adalah sebagai berikut :

1.     Membagi operasi-operasi yang ada kedalam kolom-kolom sesuai dengan possisinya dalam persedence diagram. Pada setiap kolom, urutkan operasi mulai dari yang waktu prosesnya terbesar sampai terkecil

2.     Masukkan semua operasi dalam kolom pertama kesatsiun 1, selama belum melebihi waktu siklusnya. Jika total waktu semua operasi dalam kolom pertama tersebut masih kurang dari waktu sikus, ambil operasi dari kolom berikutnya dengan prioritas operasi yang waktu prosesnya besar lebih dulu, masukkan dalam stasiun kerja 1

3.     Mengulangi kembali langkah tersebut sampai semua operasi telah dimasukkan.

c. Ranked Positional Weighted

Merupakan metode Heuristik baru yang mengakomodasi semua cara sebelumnya, dimana langkah-langkah penyelesaiannya adalah sebagai berikut :

1.     Hitung waktu siklus yang diinginkan. Waktu siklus aktual adalah waktu siklus yang diinginkan atau waktu operasi terbesar jika waktu operasi terbesar itu lebih besar dari waktu siklus yang diinginkan.

2.     Buat matrik pendahulu berdasarkan jaringan kerja perkaitan.

3.     Hitung bobot posisi tiap operasi yang dihitung berdasarkan jumlah waktu operasi tersebut dan operasi-operasi pengikutnya.

4.     Urutkan operasi-operasi mulai dari bobot posisi terbesar sampai bobot posisi terkecil.

5.     Lakukan pembebanan operasi pada stasiun kerja mulai dari operasi dengan bobot posisi terbesar sampai pada operasi dengan bobot posisi terkecil, dengan kriteria total waktu operasi lebih kecil dari atau sama dengan waktu siklus.

6.     Hitung efisiensi rata-rata stasiun kerja yang terbentuk.

7.     Gunakan prosedur Trial and Error untuk mencari pembebanan yang akan menghasilkan efisiensi rata-rata yang lebih besar lagi.

8.     Ulangi lagi langkah 6 dan 7 sampai tidak diketemukan lagi nilai efisiensi rata-rata yang lebih besar.

 

Flowchart Praktikum

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(originnaly written at 10/11/2008)

 

5 thoughts on “Ergonomi : Work Measurement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s