Pratikum : Basic Ergonomics

Ergonomi dasar merupakan suatu ilmu dasar berkaitan dengan ergonomi yang akan dipelajari di dalam keseluruhan praktikum ini. Pada umumnya ergonomi dasar ini dibagi menjadi 6 yaitu : Anthropometri, Grip Strength, Human Error, Biomekanika, Phsycological Performance, dan Manual Material Handling. Dimana Anthropometri dan Grip Strength sendiri membahas tentang dimensi tubuh manusia yang nantinya akan sangat berperan penting dalam pembuatan fasilitas-fasilitas kerja untuk manusia. Adapun bagian yang akan diukur pada praktikum kali ini adalah dimensi tubuh utama, dimensi tangan, dan dimensi kepala. Sedangkan Human Error sendiri mempelajari tentang pengaruh lingkungan terhadap error yang dilakukan manusia dalam melakukan suatu pekerjaan dimana faktor-faktor pengaruh yang digunakan adalah suhu, bising, dan cahaya. Serta untuk biomekanika, phsycological performance, dan manual material handling mempelajari tentang kemampuan manusia dalam melakukan suatu pekerjaan yang nantinya menghasilkan sistem kerja yang sesuai dengan kemampuan operator, dimana pada subbab ini terdapat analisa mekanik serta konsumsi oksigen. Ketiga bagian tersebut memiliki peran masing-masing dalam menciptakan landasan penting bagi langkah-langkah selanjutnya untuk menciptakan suatu analisa perancangan sistem kerja yang ergonomi.

Anthropometri dan Grip Strength

1.1Definisi Anthropometri

Anthropometri berasal dari kata Anthropos yang berarti manusia dan Metrein yang berarti ukuran. Anthropometri dapat didefinisikan sebagai salah satu aspek ergonomi yang mempelajari ukuran dan bentuk anggota tubuh manusia. Antrhopometri juga bisa diartikan sebagai kalibrasi dimensi tubuh manusia. Dari pengukuran anggota tubuh manusia tersebut akan diperoleh data anthropometri. Menurut Steven dan Nurmianto, anthropometri adalah sekumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakeristik tubuh manusia, ukuran, bentuk, dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain. Penerapan data anthropometri ini akan dapat dilakukan jika tersedia nilai rata-rata (mean, X) dan σx (standard deviasi) nya dari suatu distribusi normal.

1.2  Persentil

Dari pengukuran dimensi tubuh manusia akan diperoleh data anthropometri. Data tersebut dapat digunakan jika tersedia nilai mean (rata-rata) dan standar deviasi dari sebuah distribusi normal. Dalam anthropometri dikenal istilah persentil, yaitu suatu nilai yang menyatakan bahwa persentase tertentu dari sekelompok orang yang dimensinya sama dengan atau lebih rendah dari nilai tersebut. Misalnya 95 % populasi adalah sama dengan atau lebih rendah dari 95 percentile. Dalam anthropometri, nilai 95 persentil akan menggambarkan ukuran manusia yang terbesar dan sebaliknya 5 persentil akan menunjukkan ukuran terkecil. Besarnya nilai persentil dapat ditentukan dengan menggunakan tabel distribusi normal.

1.3 Penyebab Variabilitas

Pada dasarnya manusia memiliki variasi dalam hal bentuk, ukuran, kekuatan dari masing-masing anggota tubuh yang dimilikinya. Perbedaan atau variasi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut :

1.     Keacakan (Random)

Meskipun telah terdapat dalam satu kelompok populasi yang sudah jelas sama jenis kelamin, suku/ bangsa, kelompok usia dan pekerjaannya, namun masih akan ada perbedaan yang cukup signifikan antara berbagai macam masyarakat.

2.     Jenis Kelamin

Ada perbedaan yang signifikan antara dimensi tubuh laki-laki dan wanita. Dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya akan lebih besar dibandingkan dengan wanita, terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu seperti pinggul, dada, dan sebagainya.

3.     Suku Bangsa (Ethnic Variability)

Setiap suku, bangsa, ataupun kelompok etnik akan memiliki karakteristik fisik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Apalagi jika hal ini didukung dengan adanya migrasi sehingga suku atau kelompok etnik yang satu akan bercampur dengan yang lainnya. Tentu saja hal ini akan menyebabkan akulturasi dan muncul keragaman dalam satu populasi

4.     Usia

Secara umum seiring dengan bertambahnya usia maka dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah besar. Pertumbuhan itu dimulai sejak awal kelahiran sampai dengan usia sekitar 20 tahunan. Setelah itu tidak akan lagi terjadi pertumbuhan bahkan cenderung menurun yang dimulai sekitar usia 40 tahunan. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya elastisitas tulang belakang dan berkurangnya dinamika gerakan tangan dan kaki.

5.     Jenis Pekerjaan

Jenis pekerjaan akan mempengaruhi bentuk dan ukuran tubuh seseorang, karena beberapa jenis pekerjaan tertentu menuntut adanya persyaratan dalam seleksi pekerjanya, misalnya : buruh dermaga harus mempunyai postur tubuh yang relatif lebih besar dibandingkan dengan karyawan kantor pada umumnya.

6.     Pakaian

Iklim di suatu daerah akan memberi pengaruh terhadap variasi bentuk pakaian dan spesifikasi bahan yang digunakan. Orang-orang yang tinggal di daerah dingin akan cenderung menggunakan pakaian yang tebal dehingga hal tersebut dapat mempengaruhi dimensi tubuh seseorang. Jadi, dimensi tubuh orang pun akan berbeda dari satu tempat dengan tempat yang lain.

7.     Faktor Kehamilan pada Wanita

Kondisi ini jelas akan mempengaruhi bentuk dan ukuran tubuh. Untuk itulah diperlukan perhatian khusus terhadap produk-produk yang dirancang bagi segmentasi seperti ini.

8.     Cacat Tubuh secara Fisik

Data anthropometri akan diperlukan untuk perancangan produk bagi penderita cacat tubuh secara fisik. Masalah yang sering timbul misalnya keterbatasan jarak jangkauan, untuk itu diperlukan ruang kaki (knee space) untuk desain meja kerja, lorong atau jalur khusus untuk kursi roda, ruang khusus di dalam lavatory, jalur khusus untuk keluar masuk perkantoran, kampus, hotel, restoran, supermarket dan lain-lain

1.4  Jenis Anthropometri

Anthropometri merupakan bagian dari ilmu ergonomi yang mempelajari tentang pengukuran dimensi tubuh manusia. Sikap (posture) ataupun posisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran tubuh. Berdasarkan cara pengukurannya, maka anthropometri diklasifikasikan dalam dua jenis, yaitu :

1.     Pengukuran dimensi struktur tubuh (structural body dimension)

Di sini tubuh diukur dalam berbagai posisi standar dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna). Istilah lain dari pengukuran tubuh dengan cara ini dikenal dengan static anthropometry. Dimensi tubuh yang diukur dengan posisi tetap antara lain meliputi berat badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri, maupun duduk, ukuran kepala, tinggi/ panjang lutut pada saat berdiri/ duduk, panjang lengan dan sebagainya. Ukuran dalam hal ini diambil dengan persentil tertentu seperti 5 dan 95 persentil.

2.   Pengukuran dimensi fungsional tubuh (functional body dimensions)

Di sini pengukuran dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat berfungsi melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan. Hal pokok yang ditekankan dalam pengukuran dimensi fungsional tubuh ini adalah mendapatkan ukuran tubuh yang nantinya akan berkaitan erat dengan gerakan-gerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Berbeda dengan cara pengukuran yang pertama, structural body dimensions, yang mengukur tubuh dalam posisi statis (fixed), maka cara pengukuran kali ini dilakukan pada saat tubuh melakukan gerakan-gerakan kerja atau dalam posisi yang dinamis. Cara pengukuran semacam ini akan menghasilkan data “dynamic anthropometry”. Anthropometri dalam posisi tubuh melaksanakan fungsinya yang dinamis  akan banyak diaplikasikan dalam proses perancangan fasilitas ataupun ruang kerja. Sebagai contoh perancangan kursi mobil dimana di sini posisi tubuh pada saat melakukan gerakan mengoperasikan kemudi, tangkai pemindah gigi, dan pedal harus menggunakan data  dynamic anthropometry.

1.5   Penggunaan Data Anthropometri

Data anthropometri akan digunakan untuk berbagai keperluan, seperti halnya untuk merancang fasilitas kerja agar sesuai dengan dimensi ukuran anggota tubuh manusia yang akan menggunakannya. Dalam pelaksanaannya, prinsip-prinsip penggunaan data anthropometri harus diterapkan agar rancanganafasilitas kerja sesuai dengan orang yang menggunakannya. Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah :

1. Design for Extreme Individuals

Setiap rancangan produk atau fasilitas kerja dibuat untuk memenuhi dua sasaran pokok. Sasaran pertama adalah rancangan tersebut sesuai dengan ukuran ekstrim (terbesar atau terkecil) dari anggota tubuh dan tujuan yang kedua adalah rancangan tersebut masih tetap bisa digunakan dengan nyaman untuk ukuran mayoritas populasi yang lainnya. Implementasi ukuran ditetapkan berdasarkan nilai upper percentile (90-th, 95-th, atau 99-th). Contoh aplikasi desain ini adalah pada penetapan tinggi atau lebar pintu darurat. Jika fasilitas kerja yang ingin dirancang adalah fasilitas dengan ukuran dimensi maksimum, maka perancangan ditetapkan berdasarkan apda nilai lower percentile (1-th, 5-th, atau 10-th). Contoh aplikasinya adalah pada penetapan jarak jangkau dari fasilitas kontrol yang akan dioperasikan.

2. Design for Adjustable Range

Rancangan bisa diubah-ubah ukurannya sehingga cukup fleksibel dipakai oleh setiap orang yang memiliki bentuk dan dimensi ukuran yang berbeda. Contoh aplikasi desain ini adalah pada rancangan adjustable automobile seats.

3. Design for the Average

Rancangan menngunakan ukuran rata-rata (50-th) dari populasi data anthropometri yang ada. Dalam realitasnya sedikit sekali orang yang memiliki ukuran tubuh rata-rata.

1.6  Definisi Grip and Strength

Grip strength merupakan kekuatan genggam tangan yang diukur dengan menggunakan hand dynamometer. Grip and strength akan dipengaruhi oleh diameter genggam, posisi tubuh, dan jenis kelamin. Jenis kelamin jelas sangat mempengaruhi kekuatan genggaman. Pada dasarnya laki-laki akan memliki kekuatan yang lebih besar dibanding wanita dan juga ukuran telapak tangannya lebih besar, sehingga kemampuan untuk menggenggam juga lebih besar.

 

Human Error

2.1  Identifikasi Human Error dan Tipe-tipe Human Error

Human error secara umum dapat didefinisikan sebagai sekumpulan aktivitas yang melampaui batas penerimaan manusia yang ditentukan oleh suatu sistem. Kondisi lingkungan kerja yang tidak ergonomis dapat menyebabkan terjadinya kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia, sehingga hasil kerja tidak maksimal. Meskipun operator sehat dan sudah diseleksi secara ketat, tetap saja jika kondisi lingkungan kerja fisik tidak mendukung, seperti: temperatur, kelembaban, getaran, kebisingan dan lain-lain, maka operator akan mengalami kesusahan utnuk beradaptasi dengan situasi dan kondisi lingkungan kerja yang bervariasi tersebut. Hal tersebut menyebabkan stress yang menumpuk dan secara tiba-tiba bisa menimbulkan hal yang sangat fatal. Berikut ini adalah faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya human error jika faktor-faktor tersebut tidak dikendalikan :

a.     Kebisingan

Suara-suara bising yang tidak terkendali (di atas ambang desibel yang diijinkan) tidak saja merusak manusia akan tetapi juga berinteferensi dengan sistem komunikasi suara yang dipakai di pabrik yang berguna untuk signal peringatan untuk kondisi-kondisi darurat. Getaran-getaran dari mesin yang tidak terkendali juga bisa mempengaruhi performansi kerja manusia.

b.    Pencahayaan

Permasalahan lainnya yang tidak kalah penting adalah pencahayaan. Pencahayyan sangat mempengaruhi manusia untuk melihat obyek-obyek di sekelilingnya dengan jelas dan cepat tanpa menimbulkan kesalahan. Pencahayaan yang kurang dapat menyebabkan mata cepat lelah, lelahnya mata kan menimbulkan efek pada lelehnya mental dan lebih jauh lagi dapat menyebabkan kerusakan pada mata. Tingkat pencahayaan biasanya diukur dalam istilah illuminance. Jadi pengukuran cahaya perlu dilakukan sebelumnya, karena pencahayaan yang tidak bagus akan memberikan efek pada ketajaman penglihatan.

c.     Temperatur

Tubuh manusia akan selalu berusaha mempertahankan keadaan normal dengan suatu sistem tubuh yang sempurna sehingga dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di luar tubuh tersebut.  Kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan temperatur luar terbatas, jika perubahan temperatur luar terlalu besar, maka perubahan temperatur ini akan mempengaruhi performansi kerja manusia.

d.    Kelembaban

Kelembaban sangat dipengaruhi oleh temperatur udara. Suatu keadaan dimana udara sangat panas dan kelembaban tinggi akan menimbulkan pengurangan panas dari tubuh besar-besaran dan denyut jantung semakin cepat. Kondisi seperti tentunya tidak baik bagi tubuh manusia karena dapat mengganggu kinerja mereka.

e.     Bau-bauan

Temperatur dan kelembaban merupakan dua faktor lingkunagn yang dapat mempengaruhi kepekaan penciuman. Oleh karena itu pemakaian air conditioning yang tepat akan membantu menghilangkan bau-bauan yang mengganggu sekitar tempat kerja.

 

Kondisi-kondisi berbahaya tersebut haruslah diidentifikasi sejak dini agar tingkat human error dapat dikurangi, sehingga performansi kerja dapt terjaga dan tidak terjadi kecelakaan yang dapat membahayakan manusia. Adapun klasifikasi human error untuk mengidentifikasi penyebab kecelakaan sebagai berikut :

1.     System Induced Human Error

Dalam hal ini, mekanisme suatu sistem dianggap memungkinkan manusia untuk melakukan kesalahan sehingga menyebabkan kecelakaan. Contohnya adalah manajemen yang tidak menerapkan disiplin secara baik dan ketat sehingga para pekerja mudah lalai dengan peraturan dan mungkin melakukan kesalahan.

2.     Design Induced Human Error

Kesalahan yang terjadi diakibatkan oleh perancangan sistem kerja yang kurang baik. Perancangan sistem kerja yang kurang baik ini dapat menyebabkan terjadinya kesalahan dalam bekerja, mengingat manusialah yang bertindak sebagai pengguna sistem kerja. Begitu pula jika peralatan kerja tidak didesain dengan memperhatikan faktor manusia, maka kecelakaan kerja dapat terjadi.

3.     Pure Human Error

Pure Human Error terjadi karena kesalahan murni yang disebabkan oleh faktor manusia. Misalnya saja karena kelelahan yang berlebihan, kurang tidur, terlalu lelah fisik dan mental, atau kurangnya motivasi dalam melakukan suatu pekerjaan.

 

Selain klasifikasi berdasarkan cara pengukurannya, human error dapat dibedakan berdasarkan tipe operasinya, yaitu :

a.     Design Error

Kesalahan yang disebabkan oleh desain yang kurang memadai oleh desainer dan juga tidak cukupnya waktu dan latar belakang desain.

b.    Operating Error

Kesalahan yang dilakukan oleh personil yang beroperasi di lapangan selama pemakaian peralatan, hal ini disebabkan karena kurangnya training dalam penggunaan alat.

c.     Inspection Error

Kesalahan yang dilakukan oleh inspektor yang sesekali menolak barang yang bagus dan menerima yang jelek, penyebabnya adalah kurangnya ketelitian inspektor dalam menerima produk.

d.    Installion Error

Kesalahan yang timbul selama instalasi peralatan, penyebabnya yaitu kurangnya pengalaman dan tidak mengikuti instruksi.

e.     Assembly Error

Kesalahan yang dilakukan oleh pekerja assembly sewaktu memasang alat yang merupakan kesalahan keahlian, yang bisa ditemukan selama inspeksi pabrik atau setelah mangalami kegagalan produk dilapangan.

f.     Maintenance Error

Kesalahan yang dilakukan oleh petugas maintenance, misalnya perbaikan dan kalibrasi yang salah, penyebabnya adalah pengetahuan yang kurang.

Selain itu, human error juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkah laku dasar yang dilakukan oleh operator, yaitu :

a. Error of Omission

Dimana operator tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Penyebabnya adalah training yang kurang memadai atau terlalu banyak stress. Contohnya : seorang operator yang lupa menyimpan data terbaru dalam sistem komputer sebelum mengedit file baru.

b.    Error of Comission

Dimana operator melakukan tugasnya tidak dengan cara yang benar. Penyebabnya adalah pemilihan aplikasi kelalaian yang tidak tepat, aplikasi urutan kerja yang salah, kegagalan untuk memenuhi batas waktu atau aplikasi yang kurang.

c.     Psychomotor Error

Psychomotor error melibatkan kecelakaan yang beroperasi pada suatu pelaksanaan atau suatu kendali urutan tindakan didalam pesanan yang salah.

d.    Error karena disengaja

Misalnya karena terdapat suatu dendam dari bawahannya kepada atasannya maka bawahan tersebut melakukan error yang disengaja. Hal ini berkaitan dengan faktor psikologi manusia itu sendiri.

2.2 Human Reliability Assesment

Manusia selalu membuat kesalahan ketika berinteraksi dengan proses. Ini merupakan sifat dasar dari manusia. Tetapi human error dapat diwaspadai dan diperhitungkan melalui peristiwa atau kejadian yang akan terjadi. Hal ini membutuhkan suatu aplikasi dari Human Factor Engineering dan bila benar-benar dapat diaplikasikan maka dapat memberikan manfaat yang sangat besar pada pengurangan human error dan mengembangkan operasional dari proses. Yang dimaksud dengan human reability assesment yaitu bagaimana memahami atau mengidentifikasi human error dalam suatu proses dan bagaimana menentukan human factor yang dapat mengontrol kebiasaan mereka.

Manfaat dari pengaplikasian dari human reability assesment adalah sebagai berikut :

  • Diharapkan tidak melakukan kesalahan (error) untuk selanjutnya
  • Meningkatkan kemampuan manusia agar selalu waspada dalam melakukan pekerjaan

Standar Kebijakan K3

K3 merupakan salah satu aspek perlidungan tenaga kerja dan sekaligus melindungi asset perusahaan. Setiap tenaga kerja mempunyai hak untuk mendapat perlindungan atas keselamatan dalam melakukan pekerjaan, dan setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula keselamatannya serta setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien sehingga proses produksi berjalan lancer (UU No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja). Berdasarkan penjelasan di atas, maka K3 terdiri dari tiga aspek, yaitu :

1.     Keselamatan (safety) yaitu pencegahan terjadinya kecelakaan untuk meghindari cedera bagi orang atau kerusakan terhadap fasilitas kerja atau lingkungan kerja.

2.     Kesehatan (health) yaitu upaya pencegahan penaykit atau ketidaknyamanan yang dapat mengganggu kondisi fissik dan mental pekerja ataupun anggota masyarakat.

3.     Kerja (work) yaitu segala aktvitas manusia yang mendayagunakan akal, pikiran dan tenaga untuk menghasilkan sesuatu

Hak atas jaminan keselamatan ini membutuhkan prasyarat adanya  lingkungan yang sehat dan aman bagi tenaga kerja dan masyarakat di sekitarnya. Ada tiga alasan perlu adanya pencegahan kecelakaan, yaitu :

1.     Alasan kemanusiaan, seperti : penderitaan bagi individu atau keluarga, kemungkinan kehilangan kemampuan jasmani (cacat fisik) dan beban mental, serta berhenti dari pekerjaannya.

2.     Alasan ekonomi, seperti : biaya akibat kerusakan, premi asuransi, waktu yang hilang (delay atau idle), loss of profit akibat produksi berhenti, dan turunnya moral.

3.     Alasan hukum, seperti : pertanggungjawaban hukum (terkait dengan nyawa manusia dan kerusakan yang timbul), kecelakaan karena kelalaian bias dikenakan sanksi pidana dan dianggap sebagai  perbuatan melanggar hukum atau kriminal.

One thought on “Pratikum : Basic Ergonomics

  1. Apabila kita ingin ambil topik mengenai Human Error untuk Tugas Akhir, kira-kira metode yang dapat dipakai untu menangani masalah Human Error tersebut apa yaa ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s