Max dan Khan

Kemarin, 30 April 2010, kelinci putih menonton 2 film berturut-turut. Film yang sama-sama mengisahkan tentang bagaimana kehidupan di mata masing-masing tokoh utamanya, bagaimana mereka menjalaninya, dan bagaimana orang-orang di sekitar mereka bersikap terhadap mereka.

Kedua film ini juga memiliki banyak perbedaan. Cerita yang benar-benar berbeda, setting tempat yang berbeda, bahasa yang berbeda, bahkan sistem yang digunakan juga berbeda (yang satu live action dengan karakter manusia sedangkan yang lain menggunakan stop motion clay atau animasi tanah liat).  Tetapi uniknya, kedua tokoh utama dari kedua film ini memiliki persamaan, yaitu keduanya sama-sama mengidap Autis dengan jenis Asperger’s Syndrome.

=========================

Sedikit ulasan tentang sindrome asperger:

www.webmd.com – Asperger’s syndrome is a developmental disorder that makes it very hard to interact with other people. Your child may find it hard to make friends because he or she is socially awkward.

People with asperger’s syndrome have some traits of autism. For example, they may have poor social skills, prefer routine, and not like change. But unlike those who have autism, children with Asperger’s syndrome usually start to talk before 2 years of age, when speech normally starts to develop.

Asperger’s syndrome is a lifelong condition, but symptoms tend to improve over time. Adults with this condition can learn to understand their own strengths and weaknesses. And they can improve their social skills.

Both Asperger’s syndrome and autism belong to the group of disorders called pervasive developmental disorders. Asperger’s syndrome is rare. About 3 out of 10,000 people have it.

=========================

“Mary and Max” dan “My Name is Khan”. Itulah judul kedua film ini.

Review untuk film “Mary and Max” :

Vivanews.com – “Tuhan mengaruniakan kita keluarga,” kata Ethel Mumford, seorang penulis Amerika Serikat, pada suatu masa, “syukurlah kita bisa memilih siapa yang bisa menjadi teman kita.” Kata-kata itu dionggokkan oleh Adam Elliot pada pembuka film terbarunya yang disesaki humor gelap, Mary and Max.

Mary berusia delapan tahun. Ia tinggal di pinggiran kota Melbourne , Australia . Ia suka coklat dan nonton serial kartun televisi berjudul The Noblets.

Mary tak punya teman.

Max merupakan seorang Yahudi keturunan Amerika Serikat penderita obesitas berumur 44 yang tinggal di New York . Dia mengalami Sindrom Asperger. Max penggila coklat. Malam-malamnya yang penuh insomnia ia habiskan untuk menonton The Noblets.

Pun, Max tak punya teman.

Suatu hari di Australia yang jenuh, Mary (diisi suaranya oleh Bethany Whitmore) memutuskan untuk membuka buku telepon di kantor pos dan memilih salah satu nama yang tertera di sana secara acak. Telunjuk Mary berhenti pada Max. Kun fa yakun. Itu lalu jadi pemicu bagi 20 tahun persahabatan mereka, yang kemudian secara ajek tercetak lewat surat-menyurat. Angka tahun bermulanya 1976.

Dan inilah isi surat pertama Mary kepada Max:

Tuan M Horowitz yang baik,

Namaku Mary Daisy Dinkle. Umurku delapan tahun, tiga bulan dan sembilan hari. Warna favoritku coklat, dan kudapan favoritku susu kental manis, disusul coklat. Aku punya seekor ayam jago bernama Ethel. Dia tak bisa bertelur. Tapi suatu saat dia pasti bisa melakukannya. Ibuku perokok, suka cricket dan peminum. Dan ayahku gemar menghabiskan waktu di pondoknya dan bermain-main dengan burung mati. Di Amerika, bayi muncul dari mana? Apakah mereka berasal dari kaleng minuman cola? Di Australia, mereka timbul dari dalam gelas bir. Kuharap Tuan dapat membalas surat ini dan menjadi temanku.

Salam hangat,

Mary Daisy Dinkle

PS: Kuharap Tuan suka coklat yang kukirimkan. Namanya cherry ripe.

Mary mengulum senyum melihat suratnya yang akhirnya tuntas dan siap terkirim. Ia tak menduga bahwa pertanyaan yang ia imbuhkan di dalamnya betapa sulit untuk dijawab. Max (yang suaranya dimainkan dengan menawan oleh Philip Seymour Hoffman), di ujung benua yang lain, seperti dapat diduga, terperanjat. Ia butuh semalaman untuk merenung di apartemennya yang sempit, berbau coklat, dan bertebar remah roti.

Akhirnya, di pagi abu-abu, dalam gegas dan gairah, ia duduk dan merangkai balasan lewat mesin tik tuanya. Salah satu paragraf surat itu berbunyi begini: Bayi tidak menyembul dari kaleng minuman, di Amerika. Tapi aku ingat perkataan ibuku ketika aku masih berumur empat tahun. Bayi berasal dari telur yang dierami oleh para rabi, jika kamu seorang Yahudi; para suster, jika kamu Nasrani; dan para pelacur, jika kamu seorang ateis.

Dunia kanak Mary koyak seketika mendapat jawaban lugas Max, seorang mantan komunis yang telah lama memutuskan membunuh Tuhan. Di sisi lain, ia bahagia karena ia akan mendapat teman baru. Dan, tersebutlah, sepanjang film kita akan dimanjakan dengan lontaran-lontaran yang bernas dan cerdas dari Mary dan Max. Bukan kebetulan pula kalau humor merupakan daya utama film ini.


Ketajaman dialog dalam Mary and Max tak lain hasil upaya keras Adam Elliot, penulis dan sutradara film claymation (tanah liat animasi)ini, yang memang piawai sebagai penulis naskah. Elliot kadung tersohor melalui film-film pendeknya, yang telah diputar di lebih dari 500 festival dan diganjar lebih dari 100 penghargaan. Bahkan, Harvie Krumpet, filmnya yang berdurasi 22 menit, mendapatkan Oscar pada 2004.

Mary and Max merupakan film panjang perdana Elliot, namun ia mampu meringkus detil dengan sangat rapi dan telaten. Film itu juga dibalut dengan pencahayaan dan pewarnaan yang menawan. New York digambarkan dengan warna yang cenderung hitam-putih dan gelap seperti Gotham pada Batman, sementara Melbourne cenderung terlalu berwarna. Elemen itu mewakili para tokoh pada layar, yang cenderung rendah diri, ganjil dan muram.

Meskipun berbentuk animasi, kelihatannya Mary and Max masih agak wagu untuk ditonton oleh para kanak. Seperti Waltz With Bashir dan Persepolis, Mary and Max sesungguhnya memuat wacana yang masih sulit dicerna oleh anak-anak seperti seks, depresi, bunuh diri, dan nilai-nilai lain yang dianggap amoral oleh masyarakat.

Namun demikian, film ini tak ragu berkisah tentang hal-hal kecil dalam hidup yang mengeroyok kita namun tak kita sadari. Dalam sebuah surat, Mary sempat bercerita tentang bagaimana kesulitannya menerima hinaan kawan sekolahnya tentang tompel yang ada di keningnya. Atau cerita tentang bagaimana ia bisa guyub dengan seekor ayam jantan.

Film ini menjadi pembuka pada festival film Sundance tahun ini. Seperti karya Elliot yang lain, Mary and Max sudah dianugerahi banyak penghargaan. Di atas itu semua, kita agaknya mesti sepakat dengan Ethel di awal film: syukurlah Mary dan Max bisa memilih siapa yang bisa menjadi teman mereka.

Review untuk “My Name is Khan” :

kompasiana.comMy name is Khan, and I’m not a terrorist! Kalimat inilah yang sesungguhnya menjadi titik tekan My Name Is Khan. Kalimat yang dilontarkan Rizwan Khan saat hendak menemui Presiden Amerika Serikat, kalimat yang diucapkan Rizwan Khan sambil mengangkat tangan di antara ribuan massa penyambut presiden, yang kemudian tertangkap kamera dan disiarkan televisi ke seantero dunia. Sebuah kalimat yang mengantarkan Khan ke penjara khusus para teroris dan Khan disiksa habis-habisan di sini, sebelum kemudian dia dibebaskan karena tidak terbukti bersalah, bahkan Khanlah yang menelepon biro penyelidik federal (FBI) atas adanya rencana teror yang dilihatnya!

Adegan ini mengajarkan pula kepada para jurnalis televisi bagaimana membuat dan menciptakan sebuah berita (baca cerita) menawan dan penting dari “seseorang” yang tak penting seperti  Rizwan Khan. Benar, kedatangan presiden AS di sebuah wilayah akan menjadi berita… tetapi ya cuma itu saja, dan semua stasiun televisi akan memberitakannya secara seragam. Jurnalis yang baik, ulet, pantang menyerah dan memiliki kemampuan mengendus nose for news, bisa membuat gempar Amerika dan seluruh dunia hanya dengan mengolah gambar dan ucapan Rizwan Khan, “My name is Khan, and I’m not a terrorist!”

Sebagai penderita sindroma Asperger, Rizwan Khan kecil (diperankan Tanay Chheda) yang berasal dari keluarga kelas menengah Muslim India, menyadari kelebihan sekaligus kekurangannya itu. Dua “dunia” yang bersemayam dalam tubuhnya. Kelebihannya, ia menjadi anak yang supercerdas yang mampu menuliskan perasaannya dengan detail. Secara motorik dan logika, ia mampu mereparasi mesin rusak apapun sampai menjadi berfungsi kembali. Kekurangannya, ia tak mampu mengekspresikan kehebatannya kepada setiap orang, bahkan kepada ibunya sendiri (diperankan Zarina Wahab). Ia menjadi terisolir dan terusir dari kelompok sosial manapun. Rizwan hidup dalam dunianya sendiri, dunia yang dikembangkannya sendiri.

Sebagai penderita sindroma Asperger, Rizwan Khan takut akan warna kuning dan suara bising. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kerap ia menjadi pusat kekerasan bagi anak-anak bandel yang merasa penampilan Rizwan aneh. Ibunya selalu mengajarkan, di dunia ini hanya ada dua jenis manusia: manusia baik yang selau berbuat baik, dan manusia jahat yang selalu berbuat jahat. Hanya manusia. Bukan agama!

Sebagai sebuah negara yang pernah terkoyak karena kerusuhan horisontal antara Muslim dan Hindu pada awal tahun 1980-an, film ini menjadi sensitif karena “bekas kerusuhan” itu masih belum pupus dalam sebagian benak orang India. Namun Rizwan Khan yang Muslim justru menikahi Mandira yang Hindu, yang ditentang habis adik Khan sendiri. Terlebih lagi ketika Islam menjadi bahasan tersendiri dan menempati banyak porsi pasca peristiwa WTC, film ini menjadi perhatian dunia karena ingin menghapus cap Islam sebagai teroris yang diterakan dunia Barat. Ada derita Muslim Amerika yang baru tergambar setelah peristiwa WTC itu, meski diwakili Muslim India di Amerika. Rizwan Khan mencatat, sebelumnya dunia mengenal patokan tahun sebelum masehi (BC) dan tahun sesudah masehi (AD), “Sekarang ada 9/11,” katanya. Tidak lain merujuk pada penanda awal penderitaan sebagian Muslim pasca peristiwa WTC itu.

Cerita bergaya flash back bergulir cepat berdasarkan catatan harian Rizwan Khan. Misalnya bagaimana Khan saat mendapat sponsor dari adiknya untuk pergi ke Amerika Serikat diperlakukan sebagai seorang teroris di bandara hanya karena dia seorang backpacker yang berpenampilan aneh, yang selalu meremas-remas batu di tangannya. Khan yang membantu adiknya berjualan kosmetik dan masuk ke salon-salon sehingga di sini kemudian bertemu Mandira yang menawan, Mandiri janda beranak satu yang kelak dinikahinya. Saya pribadi, mungkin penonton lainnya, terkesan dengan adegan dimana Khan dengan peci haji sedang khusuk sembahyang sementara Mandira menyiapkan prosesinya sendiri menurut keyakinannya, Hindu.

Inti film ini tetaplah kisah cinta, bukan persoalan perkawinan beda agama, bukan pula soal teroris. Benar ada adegan “sensitif” dimana di sebuah masjid Khan berani menolak dan menentang ajakan ustadz Faisal Rahman (diperankan Arif Zakaria) yang memanasi jamaah mesjid melakukan jalan kekerasan dengan merujuk sebuah ayat. Khan menentang dan mengatakan bahwa ustadz itu pembohong karena menurut keyakinannya yng tidak pernah bohong adalah ayat dalam Al Qur’an itu! Ucapan Khan membuat geram Faisal karena sebagian besar jamaah justru meyakini kebenaran ucapan Khan. Di Akhir cerita, seorang teman Faisal menikam Khan karena dianggap “menyimpang” dari keyakinan yang dianutnya soal cara jihad.

Bicara soal cinta, tak ada yang menandingi cinta tulus Khan kepada Mandira, cinta yang 100 persen tulus (Anda memilikinya?), karena mungkin kekurangan sekaligus keluguan Khan sebagai penderita Sindroma Asperger. Khan tidak mempersoalkan Mandira yang janda beranak satu dan Hindu pula. Mandira bisa menerima cinta Khan karena anaknya, Sameer (diperankan Yuvaan Makaar), bisa berteman baik dengan ayah tirinya itu. Saat teman-teman Sameer berpaling, Khanlah yang justru menghiburnya. Namun cinta Mandira berubah menjadi kebencian setelah kematian Sameer akibat kekerasan oleh empat anak berandal di sebuah lapangan sepakbola. Mandira menuding gara-gara Sameer membubuhkan nama Khan (berbau nama Islam) menjadi korban pembunuhan.

Polisi sudah angkat tangan mengungkap kasus ini, namun Mandira mengusut dengan caranya sendiri, kendati harus mengangkat poster sendiri di tengah lapangan sepak bola, mencari keadilan. Beruntung, Reese, teman Sameer yang diancam empat anak begajul itu agar tidak membocorkan pembunuhan itu, membongkar rahasia ini meski dengan risiko masuk penjara anak-anak. Reese luluh dengan upaya gigih Mandira mencari keadilan dan meminta maaf kepada Mandira.

Di sisi lain, Mandira merasa bersalah kepada suaminya, Khan, yang kini menjadi petualang demi mendekat kepada Presiden AS untuk meneriakkan “My name is Khan, and I’m not a terrorist!” . Betapa jujur dan tulisnya seorang Rizwan Khan! Mandira memang pernah berucap keras kepada kepada Khan, ”Kamu jangan diam saja, katakan kepada Presiden Amerika Serikat, bahwa kamu bukan teroris!” Rizwan Khan yang lugu, yang memandang Mandira sebagai cinta pertama dan terakhirnya ingin benar-benar mengusut pembunuh Sameer dengan caranya sendiri. Ia juga benar-benar menjalankan perintah istrinya itu sampai benar-benar bertemu Presiden AS terpilih, Barrack Obama (diperankan Christopher B Duncan) di akhir cerita.

Melalui layar televisi, Mandira juga melihat betapa Rizwan Khan dengan kegigihannya menolong korban bencana badai besar di Georgia, hanya karena di Georgia ia berteman dengan Mama Jenny, janda beranak satu beragama Kristen. Memang terasa berlebihan di sini, tetapi sebagai sebuah cerita sah-sah saja. Sang Sutradara, Karan Johar, barangkali juga ingin menyampaikan pesan bahwa agama dan keyakinan bukanlah halangan untuk kemanusiaan!

Mandira lekas sadar dan melihat sendiri di televisi bahwa suaminya, Rizwan Khan, benar-benar telah melaksanakan perintahnya itu. Khan yang lagu, mengepalkan jarinya sambil merunduk dan berteriak, “My name is Khan, and I’m not a terrorist!” sebelum kemudian polisi meringkusnya!

“Mandira, kau jangan benci Rizwan Khan, sebab dialah satu-satunya orang yang mencintaimu dengan tulus, ia juga sangat mencintai Sameer anakmu,” pesan Haseena, psikolog yang tahu persis penyakit Rizwan Khan, lewat telepon. Haseena adalah istri dari adik Rizwan Khan atau adik ipar Mandira. Dari sini, tinggallah Mandira mencari keberadaan Rizwan Khan yang dalam pengembaraan untuk mempartahankan hidupnya menjual jasanya dengan mereparasi apa saja, dari mobil mogok sampai televisi rusak. Dari keahliannya itulah Rizwan Khan bisa bertahan hidup di Amerika demi mengejar dan mendekat Presiden AS untuk menyampaikan pesan istrinya, “My name is Khan, and I’m not a terrorist!”

Di balik kisah cinta yang mengharu biru dan menguras air mata ibu-ibu, pesan dari film ini sangat kuat, bahwa Islam bukanlah teroris khususnya pasca pasca 9/11 dan betapa Muslim di Amerika harus menanggung derita tanpa akhir karena selalu dicurigai dalam setiap gerak dan langkah hidupnya.

=========================

Walaupun ending yang disajikan juga berbeda, kelinci putih salut pada sang sutradara masing-masing film tersebut. Mereka bisa menggambarkan dunia di mata penderita autis.

Asperger’s Syndrome – Symptoms

One thought on “Max dan Khan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s