Srikandi

Srikandi (Sanskerta: शिकण्ढी; Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata.


Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.


Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.


Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita.

Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya.

Tabiat Srikandi sebagai tabiat laki-laki, gemar pada peperangan, karena itu ia disebut puteri prajurit.
Srikandi seorang puteri penjaga keamanan negeri Madukara, ialah negeri Arjuna.

Perkataan-perkataan Srikandi sedap didengarnya, serta penuh dengan senyuman.  Waktu ia marah tak tampak kemarahannya itu, akan tetapi mendatangkan takut pada siapa juga.

Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa.

Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang dendam kepada Bisma.


Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

BENTUK WAYANG

Dewi Srikandi bermata jaitan, hidung mancung, muka mendongak tanda babwa puteri ini bersuara dencing. Bersanggul gede (besar). Berjamang dengan garuda membelakang. Sebagian rambut terurai bentuk polos, berkalung bulan sabit. Kain dodot putren. Srikandi berwanda: Goleng dan Patrem

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.


2 thoughts on “Srikandi

  1. Waktu saya masih kecil, saya sering membayangkan betapa kerennya saya kalau bisa menjadi ahli panah-memanah, hehee…

    tapi setelah dipikir-pikir, siapa yang mau saya panah ya? jadi waktu kecil saya membuat busur dan anak panah mini dan melepaskan anak panah ke arah pepohonan saja..

  2. hai kelinci yg mw jd srikandi, apa kbr hari ini. . Udah jd apa sekarang? Hehe. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s